mawar

wellcome

singgah kuday negal mang cik

Senin, 21 Desember 2015

Peran IT dalam Dakwah Islam

Bab I
(pendahuluan)
1.  Latar belakang
Islam adalah ajaran Allah yang rahmatan lil alamin, yang artinya rahmat bagi seluruh alam, tanpa melihat apapun bangsanya, apapun warna kulitnya, akidahnya, dst.
Untuk mewujudkan visi rahmatan lil alamin ke seluruh dunia dibutuhkan sarana atau media yang berbeda pada setiap zaman namun esensinya adalah sama. Nabi Muhammad Saw dan para nabi pada umumnya dikarunia 4 sifat yang mendasar yaitu sidiq, amanah, fatonah, dan tabligh. Dalam hal ini tabligh memiliki peran penting dalam transformasi ajaran Islam dari nabi kepada umatnya.
Di era dewasa ini dimana sains berkembang begitu pesat, kita sebagai umat Islam sangat perlu untuk ambil bagian dalam rangka pemanfaatan sains untuk kemajuan peradaban Islam yang visinya adalah rahmatan lil alamin. Karena dewasa ini, sains, akibat imperialisme epistemologi telah banyak mengalami penyimpangan baik dalam metodologinya maupun tujuannya. Akibatnya sains bukan membawa maslahat bagi umat manusia dan alam semesta tapi justru menjadi ancaman kerusakan di muka bumi
2.  Ruang lingkup
a.   Pengertian system informasi dan dakwah islam
b.   Peran sistem informasi
c.   Mengapa umat islam membutuhkan TIK
d.   Perkembangan system informasi di dunia islam
3.  Maksud dan tujuan
a.   Memenuhi tugas IT LITERASI
b.   Memberikan pemahaman mengenai peran penting system informasi
BAB II
( Pembahasan )
A. pengertian system teknologi  informasi dan dakwah islam
 Dilihat dari kata penyusunnya adalah teknologi dan informasi. Secara mudahnya teknologi informasi adalah hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari bagian pengirim ke penerima sehingga pengiriman informasi tersebut akan lebih cepat, lebih luas penyebarannya, dan lebih lama penyimpanannya.
Dakwah secara etimologi berasal dari bahasa arab yaitu دعا – يدعو- دعوة yang berarti panggilan, seruan, ajakan, undangan, permintaan dan doa. Pengertian dakwah secara terminology menurut Toha Yahya Umar bahwa dakwah adalah suatu ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara dan tuntunan, bagaimana menarik perhatian manusia untuk menganut, menyetujui, melaksanakan suatu idiologi, pendapat, pekerjaan yang tertentu.
Endang S Anshari mendefinisikan dakwah adalah penyampaian Islam kepada manusia secara lisan, tulisan, atau lukisan sebagai penjabaran, penerjemahan dan pelaksanaan dalam prikehidupan dan penghidupan manusia, ermasuk politik, social, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesenian, kekeluargaan dan sebagainya.
Arti dakwah dalam arti luas adalah penjabaran, penterjemahan dan pelaksanaan Islam dalam prikehidupan dan penghidupan manusia termasuk di dalamnya politik, ekonomi, social, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesenian dan kekeluargaan. Dakwah menurut Islam adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar yang sesuai dengan perintah Allah untuk kemaslahatan dan kebahagian mereka di dunia dan di akhirat.
Pada dasarnya dakwah adalah upaya sadar untuk mempengaruhi dan mengajak orang, baik individu maupun kelompok dengan berbagai macam cara, media dan sarana yang sah dan tepat agar menempuh jalan yang benar dalam menuju kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagian di akhirat.

B. Fungsi system informasi

1.   SaranaPembelajaran
Saat ini komputer bukan lagi merupakan barang mewah, alat ini sudah digunakan di berbagai bidang pekerjaan seperti halnya pada bidang pendidikan
Dengan masuknya materi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam kurikulum baru, maka peranan komputer sebagai salah satu komponen utama dalam TIK mempunyai posisi yang sangat penting sebagai salah satu media pembelajaran. Visi mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi yaitu agar siswa dapat dan terbiasa menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi secara tepat dan optimal untuk mendapatkan dan memproses informasi dalam kegiatan belajar, bekerja, dan aktifitas lainnya sehingga siswa mampu berkreasi, mengembangkan sikap imaginatif, mengembangkan kemampuan eksplorasi mandiri, dan mudah beradaptasi dengan perkembangan baru di lingkungannya
. Pendidikan dapat dijadikan bekal dalam mengumandangkan dakwah, sebenarnya fungsi edukatif pesantren adalah sekedar pendukung misi dakwah.[1]
 Melalui mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi diharapkan siswa dapat terlibat pada perubahan pesat dalam kehidupan yang mengalami penambahan dan perubahan dalam penggunaan beragam produk teknologi informasi dan komunikasi.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi, meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi merupakan segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.
2.   Sarana dakwah islam
Setidaknya ada lima peran teknologi informasi sebagai media dakwah, baik di lingkungan kampung atau perkotaan dari perilaku yang menyimpang dari syariat Islam, juga melindungi umat dari pengaruh buruk media massa non-Islami yang anti-Islam.
1.   Sebagai Pendidik (Muaddib), yaitu melaksanakan fungsi edukasi yang Islami. Ia harus lebih menguasai ajaran Islam ia mendidik umat Islam agar melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Ia memikul tugas mulia untuk mencegah umat Islam dari berperbuatan yang menghinakan.kebanyakan kaum muslimin terpesona dengan kemajuan tik barat mereka disilaukan dan  kadang-kadang terlihat kontradiktif. kaum muslimin terlihat  tertarik pada sesuatu yang mereka tolak.[2]
      2. Sebagai Pelurus Informasi (Musaddid). Setidaknya ada tiga hal yang harus diluruskan oleh para jurnalis. Pertama, informasi tentang ajaran dan umat Islam. Kedua, informasi tentang karya-karya atau prestasi umat Islam. Ketiga, lebih dari itu jurnalis Muslim dituntut mampu menggali –melakukan investigative reporting– tentang kondisi umat Islam di berbagai penjuru dunia. Peran Musaddid terasa relevansi dan urgensinya mengingat informasi tentang Islam dan umatnya yang datang dari pers Barat biasanya biased (menyimpang, berat sebelah) dan distorsif, manipulatif, alias penuh rekayasa untuk memojokkan Islam yang tidak disukainya. Di sini, jurnalis Muslim dituntut berusaha mengikis fobi Islam (Islamophobia) yang merupakan produk propaganda pers Barat yang anti-Islam.


3. Sebagai Pembaharu (Mujaddid), yakni penyebar paham pembaharuan akan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam (reformisme Islam). Jurnalis Muslim hendaknya menjadi “jurubicara” para pembaharu, yang menyerukan umat Islam memegang teguh al-Quran dan as-Sunnah, memurnikan pemahaman tentang Islam dan pengamalannya (membersihkannya dari bid’ah, khurafat, tahayul, dan isme-isme asing non-Islami), dan menerapkannya dalam segala aspek kehidupan umat.

4. Sebagai Pemersatu (Muwahid), yaitu harus mampu menjadi jembatan yang mempersatukan umat Islam. Oleh karena itu, kode etik jurnalistik yang berupa impartiality (tidak memihak pada golongan tertentu dan menyajikan dua sisi dari setiap informasi [both side information] harus ditegakkan. Jurnalis Muslim harus membuang jauh-jauh sikap sektarian yang baik secara ideal maupun komersial tidaklah menguntungkan (Jalaluddin Rakhmat dalam Rusjdi Hamka & Rafiq, 1989).

5. Sebagai Pejuang (Mujahid), yaitu pejuang-pembela Islam. Melaui media massa, jurnalis Muslim berusaha keras membentuk pendapat umum yang mendorong penegakkan nilai-nilai Islam, menyemarakkan syiar Islam, mempromosikan citra Islam yang positif dan rahmatan lil’alamin. us maupun non kampus atau keduanya:
Fenomena dakwah digital memang berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi informasi (TI) di dunia. Internet komersial baru masuk ke Indonesia pada tahun 1994, dengan dibukanya IndoNet di Jakarta, sebagai Internet Service Provider (ISP) pertama di Indonesia. Salah satu pelopor penggunaan Internet sebagai media dakwah adalah seperti yang dilakukan oleh kelompok Jaringan Informasi Islam (JII).
Kemudian pada sekitar tahun 1998-1999 mulai marak aneka mailing-list (milis) Indonesia bernuansa Islami semisal Isnet, Al Islam dan Padan Mbulan. Baru kemudian pada tahun 1999-2000 bermunculanlah situs-situs Islam di Indonesia, yang tidak sekedar situs-situs institusi Islam, tetapi berisi aneka informasi dan fasilitas yang memang dibutuhkan oleh umat Islam. Maka lengkaplah Internet menjadi salah satu media rujukan dan media dakwah Islam Indonesia.
 Dengan semakin beragamnya aplikasi Internet sebagai media dakwah, kini ada sebutan santri virtual, yang dicetuskan oleh situs PesantrenVirtual.com. Para santri virtual tersebut dapat saling berdakwah menggunakan milis . Milis yang awal didirikan pada Agustus 1999 hanya beranggotakan 41 orang, kini telah mencapai lebih dari 2300 anggota. Kekuatan milis sebagai media dakwah memang bukan hal yang sepele. Jika kita mengetikkan keyword "Islam" di YahooGroups.com, maka akan didapat 2254 milis yang membahas soal Islam dari berbagai bahasa dan negara.
Bahkan kini tafsir Al-Qur'an dalam bahasa Indonesia versi Departemen Agama pun dapat disimak di milis tafsir yang didirikan pada Agustus 2000 dan telah memiliki anggota sebanyak 1144 orang. Memahami konsep konsep kunci dalam Islam mutlak sangat diperlukan disamping juga pelu memahami Islam dengan menggali konsep konsep baru dalam berbagai bidang sehingga seorang muslim dapat menghadapi tantangan zaman dalam arti mampu memfilter untuk bersikap kritis atau apresiatif terhadap konsep konsep yang datang dari luar Islam.
Dari beberapa contoh aplikasi Internet di atas, maka dapat ditarik satu pemahaman umum bahwa Internet memang merupakan media yang efektif bagi dakwah dan penyebaran informasi. Meskipun demikian Internet tidak akan bisa menggantian perang ulama, kiai dan ustadz.
C. Umat islam membutuhkan TIK
Jika diamati secara mendalam, alasan mengapa suatu kaum dapat menguasai dunia, adalah terletak pada penguasaan mereka akan informasi dan sarana penunjangnya yaitu teknologi informasi.
Kongkretnya di era kontemporer adalah Kaum Yahudi. Mereka saat ini menguasai dunia karena memiliki kekuasaan atas sebagian besar akses informasi yang ada di seluruh dunia seperti CNN, BBC, dll
Dengan menguasai informasi dan teknologinya, mereka dapat dengan bebas dan leluasa membentuk paradigma masyarakat dunia sesuai kehendak hati dan tujuan mereka. Mereka menyajikan suatu fakta dengan sudut pandang mereka terus menerus yang akhirnya membentuk paradigma masyarakat secara pelan pelan dan tanpa disadari banyak orang. Hal yang menyebabkan kekhawatiran orang islam dan banyak masyarakat yang cemas akan dibanjiri oleh budaya-budaya barat, kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman itu sendiri.[3]
 Hal itu disajikan dnegan sangat halus dan sistematis sehingga membawa efek yang pasti sudah dapat ditebak. Itulah mengapa tidak mengherankan di era dewasa ini banyak muslim yang menghujat saudaranya sendiri sesama muslim karena konsumsi informasi yang telah disetting sedemikian rupa. Katakanlah dalam menanggapi masalah perang di negara negara Islam, banyak muslim yang mengklaim para mujahid sebagai teroris.
 Hal ini tentu saja akibat dahsyatnya efek yang diciptakan oleh pengaruh informasi yang didengung dengungkan kelompok tertentu seperti kata terorisme. Dengan menguasai informasi, mereka dapat mensetting segala sesuatu, membangun mental generasi muda atau bahkan merusaknya dengan menyajikan tanyangan tayangan yang enak dilihat, tapi pelan pelan merusak mental yang banyak sekali dijumpai dewasa ini.
 Dengan menguasai informasi, mereka dapat menjunjung kelompok tertentu atau bahkan menghancurkan citra kelompok tertentu. Dengan menguasai informasi, mereka menguasai dunia dan bebas mendesain dunia ini sesuai keinginan mereka.
Itulah kurang lebih gambaran sekilas tentang efek penguasaan atas informasi dan teknologi sarana penunjangnya yaitu teknologi informasi. Hal ini penting untuk membuka paradigma kita tentang betapa besar peran teknologi informasi bagi eksistensi dan kekuatan suatu peradaban di era dewasa ini. Hal ini sedikit banyak cukup menjadi problem penghambat bagi Islam sendiri untuk mengembangkan teknologi informasi sebagai sarana dakwah untuk menuju kebangkitan Peradaban Islam yang bertujuan membawa rahmat bagi seluruh alam tersebut.
 Dengan hal ini, perlu adanya integrasi ilmu pengetahuan dimana para sarjana muslim yang cendekia memiliki basis tauhid dan keislaman yang kuat dan ditunjang dengan kompetensi yang memadai di bidang teknologi informasi. Karena tanpa adanya hal tersebut, hanya melahirkan para ahli yang memanfaatkan ilmunya sekedar untuk ilmu, untuk materi dan untuk penghidupan tanpa memiliki visi pengembangan peradaban Islam.
 Permasalahannya adalah, pandangan hidup dan konsep keilmuan barat yang saat ini sedang menghegemoni dunia tidak berorientasi rahmatan lil alamin sebagaimana yang ada dalam Islam. Sehingga ketika mereka menguasai teknologi informasipun, terjadi banyak penyimpangan di dalamnya. Karena keilmuan mereka adalah keilmuan yang tidak dilandasi tauhid dan takut kepada Allah. Dengan tidak adanya rasa takut kepada Tuhan bahkan menafikan adanya tuhan mereka dapat berbuat sekehendak hati, melakukan apa saja yang menurut mereka dapat membawa keuntungan bagi mereka. Menjadikan teknologi informasi bukan hanya untuk kebaikan tapi juga untuk propaganda, menyebar fitnah, menebar ketakutan, menjatuhkan citra Islam, dsb. Dengan adanya hal tersebut, tidak mungkin tercipta rahmat bagi seluruh alam.
Itulah yang sebenarnya menjadi PR bagi umat Islam, yaitu penguasaan atas ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangkitkan kembali peradaban Islam yang memimpin dunia dengan semangat Tauhid dan visi rahmatan lil alamin. Umat Islam harus meningkatkan kompetensinya dalam ilmu pengetahuan dan tentu saja menguasai teknologi informasi sebagai media paling efektif untuk dakwah di era global saat ini. Hal ini harus dipikirkan dan diusahakan dari sekarang dengan penuh kesadaran. Karena membangun peradaban bukanlah proyek jangka pendek untuk satu atau dua tahun saja. Membangun peradaban adalah usaha jangka panjang yang tidak mudah, yang bisa jadi dibutuhkan waktu bukan satu dua tahun saja tetapi beberapa generasi atau abad.

D. perkembangan TIK di dunia islam
selain menawarkan kemudahan teknologi informasi juga membawa dampak negatif yang luar biasa jika tidak diantisipasi. Kekhawatiran pun muncul. Tidak jarang, akibat internet kebiasaan-kebiasaan yang menjadi ciri khas seorang santri menjadi hilang. Betapa tidak, belakangan ini santri lebih nyaman ngobrol di dunia maya, dari pada ngobrol di dunia nyata. Mereka telah kehilangan kemampuan untuk bersosialisasi dengan yang lain dan cenderung nyaman dengan kehidupan online. Padahal, jika membutuhkan sesuatu yang penting dalam kehidupan, yang menolong atau membantu kita bukanlah orang-orang yang dikenal dalam kehidupan maya, tapi orang yang hidup disekitar kita. Dan ironisnya, gara-gara internet seorang santri melanggar tata aturan yang telah digariskan pesantren.
Itu hanya salah satu contoh dari pengaruh dunia IT di pesantren disamping pengaruh-pengaruh yang lain. Dunia IT bak bermuka dua, bermuka baik dan jelek. Barang siapa yang bisa memanfaatkan IT dengan baik, maka dia akan “bertemu” dengan muka baik-nya IT. Begitu sebaliknya, proses transformasi tanpa batas dunia IT bisa menjadi virus yang bisa mematikan penikmatnya tanpa pandang bulu.
selain menawarkan kemudahan teknologi informasi juga membawa dampak negatif yang luar biasa jika tidak diantisipasi. Kekhawatiran pun muncul. Tidak jarang, akibat internet kebiasaan-kebiasaan yang menjadi ciri khas seorang santri menjadi hilang. Betapa tidak, belakangan ini santri lebih nyaman ngobrol di dunia maya, dari pada ngobrol di dunia nyata. Mereka telah kehilangan kemampuan untuk bersosialisasi dengan yang lain dan cenderung nyaman dengan kehidupan online. Padahal, jika membutuhkan sesuatu yang penting dalam kehidupan, yang menolong atau membantu kita bukanlah orang-orang yang dikenal dalam kehidupan maya, tapi orang yang hidup disekitar kita. Dan ironisnya, gara-gara internet seorang santri melanggar tata aturan yang telah digariskan pesantren.

Itu hanya salah satu contoh dari pengaruh dunia IT di pesantren disamping pengaruh-pengaruh yang lain. Dunia IT bak bermuka dua, bermuka baik dan jelek. Barang siapa yang bisa memanfaatkan IT dengan baik, maka dia akan “bertemu” dengan muka baik-nya IT. Begitu sebaliknya, proses transformasi tanpa batas dunia IT bisa menjadi virus yang bisa mematikan penikmatnya tanpa pandang bulu.

Perkembangan pendidikan pesantren ditengah kemajuan teknologi dan informasi dapat memberikan warna terhadap keberadaan pondok pesantren di Indonesia yang dinailai sangat terbelakang dalam hal informasi, khusunya dalam pemanfaatan teknologi dan informasi dalam pengelolaan pendidikan. terkait dengan hal di atas, bahwa keberadaan pendidikan pesantren dilihat dari sejarahnya sampai sekarang banyak mengalami perubahan di dalam penegambangan keilmuan baik dalam hal agama ataupun pengetahuan umum.
Secara historis pendidikan pondok pesantren lebih menekankan pada aspek pengembangan pendidikan keislaman (salaf), pendidikan Islam lebih dominan dari pada pendidikan umum, karena pendidikan Islam merupakan konsepsi kependidikan yang mengandung berbagai teori yang dikembangkan dari hipotesa-hipotesa atau wawasan yang berseumber pada Al-qur’an dan Al-Hadist ( Arifn: 2000: 7) hal ini sejalan dengan pendidikan yang diterapkan di pesantren saklipun juga dikembangkan kitab-kitab kuning yang dapat membekali para santri dalam mengembangkan pendidikan Islam atau pesantren. 
Pendidikan di pesantren, menekankan kepada hubungan manusia dengan tuhannya dan manusia dengan manusia, atau ajaran hubungan dunia dan akhirat yang didasarkan pada Al-qur’an dan Sunnah sebagai sumber acuannya ( Rahman, 2005: 11)  
Sedangkan ditinjau dari peran kependidikannya merupakan subsistem pendidikan nasional telah memberikan kontribusinya yang signifikan bagi peradaban Islam di Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan yang indigenous (ala) Indonesia, pesantren memiliki akar sosio-historis yang cukup kuat, sehingga membuatnya mampu meduduki posisi yang relatif sentral dalam dunia keilmuan masyarakat, sekaligus bertahan di tengah berbagai gelombang perubahan.
Terlepas dari pengaruh-pengaruh dunia IT di pesantren, memang dunia IT sangat penting bagi pendidikan pesantren. Agar implikasi negatif dunia IT di pesantren tidak menyebar atau setidaknya meminimalisir hal tersebut, dibutuhkan monitoring (pengawasan) oleh pihak-pihak terkait dalam pesantren dengan membuat peraturan ataupun undang-undang yang mengaturnya. Karena membiarkan teknologi informasi dan komunikasi melenggang tanpa adanya sebuah pengawasan, tanpa kontrol, atau bahkan pula tanpa undang-undang, adalah sikap yang berani sekaligus merupakan tindakan yang berbahaya. Namun, yang paling penting adalah dibutuhkan tanggung jawab moral yang besar kepada setiap pengguna Teknologi Informasi dan Komunikasi. Terlebih lagi jika pemanfaatannya itu didasari nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan, etika, etiket, estetika dan kearifan para pemakainya. Semoga kita disadarkan akan hal itu! Wallohu a’lam.















Bab III
(penutup)
Kesimpulan
Dalam rangka membangkitkan Peradaban Islam yang visinya rahmatan lil alamin inilah, teknologi informasi memegang peranan yang sangat penting sebagai piranti penghubung semua dimensi ilmu dan juga penghubung bagi seluruh masyarakat dunia yang menyimpan potensi dakwah yang luar biasa besar.
Ada kata bijak yang mengatakan bahwa siapa yang menguasai informasi, maka dia menguasai dunia.Maka sudah saatnya Umat Islam mempertimbangkan teknologi informasi ini dan aplikasinya untuk kebangkitan Peradaban Islam yang memimpin dunia dengan nilai nilai Qurani yang bertujuan rahmatan lil alamin mengingat teknologi informasi menyimpan potensi yang begitu besar untuk kebangkitan peradaban.


Saran
Pada penutup makalah ini saya memberikan saran kepada seluruh umat muslim indonesia dan khususnya bagi para pemuda sebagai penyambung tali estapet agama untuk pandai memanfaatkan TIK yang semakin canggih ini demi kemaslahatan umat islam sendiri. Jangan sampai kita anti TIK apalagi sampai benar-benar buta akan TIK. Mari kita sama-sama berusaha mencanakan yang makruf dan mencegah yang munkar sesuai batas kemampuan kita masing-masing, sabagaimanayang disebutkan dalam Al quran surah an nisa ayat 9 “dan hendaklah mereka takut kepada Allah mereka yang meninggalkan pemuda yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraarnya”. Semoga kita selalu diberi hidayah oleh Allah dan mendapat syafaat dari rasul yang suci amin.

Daftar pustaka
Nukman y. Eva. Saatnya muslim bicara (bandung;mizan,2008)
Qomar mujamil l pesantren dari transformasi metodelogi menuju demokratisasi institusi (jakarta; Erlangga, tanpa tahun)
 ramadhan tariq, menjadi modern bersama islam (jakarta; PT TERAJU,2003)




[1]Prof. Dr. Mujamil qomar, Pesantren dari transformasi metodelogi menuju demokratisasi institusi (jakarta, PT ERLANGGA) Hal 22-23
[2] Tariq Ramadhan, menjadi modern bersama islam (jakarta, PT TERAJU, 2003). Hal 351
[3] Eva y.nukman, saatnya muslim bicara (bandung,mizan, 2008) Hal 180

Tidak ada komentar:

Posting Komentar