mawar

wellcome

singgah kuday negal mang cik

Selasa, 15 Desember 2015

Hikmah di balik rantau


Dan jadilah kamu orang yang mengambil manfaat setiap hari dengan bertambahnya ilmu dan berenanglah kedalam lautan yang penuh dengan hikmah (syaikh al zarnuji)
 Syair inilah yang pernah diajarkan oleh usradz fauzun adzim kepadaku ketika aku menjadi santri di pondok pesantern pancasila bengkulu. ketika seseorang berangkat meninggalkan kampung halamannya dan pergi merantau  artinya ia sudah berani meninggalakan daratan indah tempat kehidupannya dan siap berenang kedalam satu lautan. Tapi persoalan kedua ialah apakah anda hanya berdiam diri ketika sudah barada dalam lautan itu? Percayalah padaku jika anda berada di tengah laut dan tak ada usaha untuk berenang maka anda akan tenggalam dan terombang
ambing oleh setiap gelombang yang siap menghancurkan mu. tapi ketika anda berusa untuk tenang dan berusaha untuk berenag maka secara perlahan anda akan mengarung lautan itu dengan menikmati betapa indahnya terumbu karang dan semakin dalam anda berenag maka akan semakin banyak yang anda peroleh dan jika anda berenang sampai pada dasar laut itu maka anda akan menemukan sesuatu yang sangat indah itu yaitu mutiara yang tersembunyi di balik karang- karang di dasar laut itu.
 Lalu aku bertanya dan mengeluh tentang perkara ku yang sangat sulit belajar dan mengadukan rasa cemburu aku ketika aku duduk termenung diatas atap masjid, perhatianku terarah kejalan raya di bawah pesantren. Aku perhatikan satu persatu setiap anak sekolah yang mengendarai sepeda motor membonceng pasangannya. Malam-malam hanya nongkrong bersama teman atau mungkin nonton film kesukaan, sinetron dan lain sebagainya. Dekat dengan orang tua sanak pfamili dan setiap orang yang mereka sayang. Seolah-olah mereka menemukan suatu kehidupan yang sebenarnya. Sedangkan keberadaanku di pesanttren kesepian, terpenjara, tak ada yang peduli denganku, jiwa ku selalu memberontak ingin keluar dari belenggu ini dan ingin hidup merdeka seperti mereka yang ku perhatikan di jalan raya itu. Keputusan dan tekad tuk menjadi seorang santri telah bulat dengan niat merubah dunia, meninggalkan semua kehidupan di kampung dan memulai kehidupan baru di pesantren. Tergagap melihat perbedaan budaya dan suasana, serta terkondisikan untuk bergaul dengan berbagai suku.
Tapi entah mengapa secepat itu pikiran berubah? Hari-hari yang  kulalui laksana jarum jam yang terhenti, seolah-olah menjadi orang yang paling menyesal masuk pesantren. Jiwa membrontak, pikiran tak pernah hadir dalam pesantren melainkan selalu melayang-layang membayangkan seandainya aku sekolah di SMK sebagaimana yang di anjurkan oleh ayah. Hati kerap dilanda kegalauan, tak jarang ku ingin lari dari rantau dan pulang ke kampung halaman. Namun  enggan tuk meminta pindah karena masuk pesantren adalah pilihan sendiri.

 Untuk menjawab suatu keluhan ini sang ustadz memberikan satu syair lagi kepadaku bersumber dari syaikh Al Zarnuji
Aku melijhat kamu menginginkan suatu kemuliaan ( kesuksesaan) tapi kamu tidak akan sukses hingga kamu menjadi hina
Beliau menjelasan dengan sangat rinci kepadaku tentang syair ini. Lalu aku berkata kalau demikian aku ingin melihat kehinaan seperti apa yang akan menghampiriku. Sejak saat itu aku mulai mengubah mindset ku bahwa hidup di pesantren adalah suatu kebanggaan bagiku dan satu saat nanti aku akan membangun satu pesantren modern yang mampu dijangkau oleh mereka yang lemah dengan menyiapkan lapangan kerja untuk wali santri. Dan mendidik setiap santri melebihi ketika aku didik di pondok pesantrenku tercinta. Amin ya robbal alamin...............................................

Eh... jangan lupa ya. Dalam kehidupan dirantau itu setiap 1 penderitaan dibalas dengan 2 kebahagiaan dan 3 pengalaman. semoga sukses milik kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar