Suatu desa hidup seorang yang kaya banyak
istrinya namun ia sangat kikir termasuk pada dirinya sendiri ia sangat enggan
untuk makan sesuatu yang enak walau hartanya berlimpah. Suatu hari hujan yang
sangat deras ia numpang berteduh di sebuah rumah milik orang miskin, ia hanya
berteduh di teras rumah itu, dan ketika si miskin itu mengajaknya untuk masuk
ia menolaknya karena ia berpikir hal ini akan menjadi utang budi kepada si
miskin itu dan satu saat ia harus membayarnya. Namun si miskin itu tetap mempersilahkan
masuk akhirnya ia bersedia masuk dengan catatan tidak di sediakan kopi karena
ia pikir ini akan menambah hutang budinya.
Akhirnya
si miskin itu memenuhi permintaannya dan ia masuk kedalam rumah itu untuk
berteduh, tanpa ia ketahui si miskin itu telah menyiapkan berbagai macam
makanan yang sangat lezat yang ia pun belum pernah mencicipinya seumur hidupnya.
Lalu ia berkata
“bukankah saya tidak mau anda menyediakan kopi
untuk ku?”
lalu si miskin itu menjawab “ lihatlah apakah
tersedia segelas kopi di antara makanan-makanan ini?”
lalu ia
bertanya “ hai si miskin siapa sebenarnya anda?” si miskin itu tersenyum dan
berkata “ ketahuilah bahwa saya sebenarnya adalah seorang pengamat!’
lalu ia sangat keheranan dengan pernyataan si
miskin itu dan berkata lagi “ apa maksud anda?”
si miskin
itu kembali tersenyum dan menjawab “ iya, saya adalah pengamat orang-orang yang
seperti anda.
Ketika
anda yang sudah rentah ini mati aku akan nikahi istrimu lalu menjadi ahli waris
dari semua hartamu yang berlimpah itu.” Betapa terkejutnya ia mendengar ungkapan
si miskin itu dan segara bangun dari tempat duduknya dan berkata saya harus
pulang.
Si miskin
itu berkata “ hujan semakin deras sebaiknya anda berteduh dan menyantap makanan
ini’’ ia berkata “terima
Keesokan
harinya ia langsung membeli segala macam kebutuhan dan makanan yang enak.
Istrinya sangat heran melihat perubahan yang terjadi pada suaminya itu lalu
bertanya’ kenapa anda berubah dari hari-hari sebelumnya?” ia menjawab “ saya
adalah pekerja keras yang tak pernah menikmati hasil setiap usaha kerasku itu
dan aku tak mau ketika aku mati kau di nikahi oleh si miskin yang berada di
ujung desa itu lalu mengambil semua harta kekayaanku yang selama ini ku
kumpulkan?” dan akhirnya ia sadar bahwa selama ini ia sangat kikir walau
terhadap dirinya sendiri...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar